Showing posts with label bangunan. Show all posts
Showing posts with label bangunan. Show all posts

Sunday, April 6, 2014

Masjid Ijabah di Madinah dan 3 Doa Rasulullah untuk Umatnya

Masjid Ijabah di Madinah dan 3 Doa Rasulullah untuk Umatnya


Masjid Ijabah cukup dikenal di kalangan peziarah di Kota Madinah. Betapa tidak, di tempat inilah Rasulullah SAW pernah shalat dua rakaat dan bersujud agak lama untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT karena kecintaannya kepada ummat. Di masjid inilah doa tersebut kemudian langsung diijabah (dijawab dan dikabulkan oleh Allah SWT).


Lokasi Masjid Ijabah Mudah Dicapai

Tidak sulit mencapai lokasi Masjid Al Ijabah, yang dahulu dikenal sebagai Masjid Bani Muawiyah (karena berada di perkampungan Bani Muawiyah bin Malik bin Auf, yang merupakan Suku Aus-Penduduk asli Madinah) ini. Jika anda ingin mengunjunginya, pastikan bahwa anda tidak akan ketinggalah ibadah Arbain di Masjid Nabawi (shalat wajib 40 rakaat) karena biasanya untuk jamaah haji reguler, waktu yang dialokasikan untuk berada di Kota Madinah persis 8 hari (hanya cukup untuk melaksanakan ibadah Arbain). Jadi bagaimana caranya jika ingin berkunjung dan menziarahi masjid yang merupakan bukti kecintaan Nabi Besar Muhammad SAW kepada umatnya ini?

Karena biasanya Masjid Ijabah tidak termasuk paket perjalanan haji atau umrah yang ditawarkan para agen travel atau Departemen Agama RI sebagaimana Masjid Quba dan Masjid Qiblatain, maka anda harus meluangkan waktu untuk pergi ke tempat bersejarah ini. Hal ini bisa dimaklumi karena banyaknya tempat-tempat suci yang patut dikunjungi selama berada di kota Madinah, Arab Saudi. Saya mungkin akan menyarankan agar anda pergi di sela-sela waktu shalat wajib 5 waktu. Paling enak mungkin anda lakukan dengan mengambil waktu sesudah shalat shubuh, atau sesudah shalat dzuhur atau ashar. Atau, kalau tidak ingin berpanas-panas, berangkatlah sesudah shalat Maghrib, tapi tentunya anda harus memperhitungkan waktu agar tidak ketinggalan shalat Isya berjamaah di Masjid Nabawi. Rugi besar kalau ibadah arbain anda rusak karena nilai pahalanya jauh lebih besar dari pada mengunjungi mesjid ini.

Masjid Ijabah lokasinya sebenarnya relatif dekat dengan Masjid Nabawi. Hanya sekitar 580 meter. Atau, jika dari sisi komplek Makam Baqi, hanya sekitar 385 meter. Tepatnya di Jalan Raja Faisal (Malik Faisal), Ring Road 1 di kawasan Marzakiyah. Yup, jadi cukup dekat untuk ditempuh dengan jalan kaki saja. Susuri saja Masjid Nabawi dan berjalanlah ke arah utara. Sembari menikmati pemandangan hiruk-pikuk Kota Madinah di sekitar Masjid Nabawi, tanpa terasa kaki anda akan sampai ke Masjid Ijabah.
peta lokasi Masjid Ijabah Madinah
Peta lokasi Masjid Ijabah di Kota Madinah (Credit: maps. google.com)


Uniknya Masjid Ijabah Madinah dan 3 Doa Rasulullah SAW untuk Ummat

Sisi lain yang menarik saat anda berada di sekitar kawasan Masjid Ijabah ini adalah banyaknya restoran atau jajanan pinggir jalan yang menjual makanan khas Indonesia. Kalau anda kangen dengan bakso atau karedok, maka ke arah Masjid Ijabah-lah seharusnya anda berjalan. Karena lingkungan di sekitar Masjid Ijabah yang banyak menawarkan makanan khas Indonesia dan toko-toko yang menjual produk-produk Indonesia lainnya, maka masjid ini pada hari Jumat menjadi titik berkumpulnya para pekerja dan pelajar asal Indonesia di Kota Madinah dan sekitarnya.

Masjid yang telah direnovasi oleh Raja Fahd pada tahun 1418 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1997 Masehi ini memang tidak terlalu kentara penampakannya. Mungkin untuk memudahkan anda menemukannya anda dapat bertanya kepada orang-orang yang berlalu lalang di jalan atau para pemilik toko yang akan sangat bersahabat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda. Luas keseluruhan Masjid Ijabah sekitar 1.000 meter persegi. Ada bagian khusus untuk peziarah perempuan yaitu di sisi kiri masjid yang luasnya sekitar 100 meter persegi. Pada hari-hari biasa (bukan musim haji), tidak banyak peziarah asal Indonesia yang berkunjung ke masjid ini, kecuali mereka yang kebetulan hotelnya berdekatan dengan lokasi masjid. Barangkali anda akan lebih mudah menemukan para peziarah dari India, Bangladesh atau Pakistan shlat di sini. Beberapa di antaranya mungkin terlihat mengusap-usap dan menciumi dinding masjid (jangan anda tiru). Walaupun keberadaannya tidak terlalu mencolok mata, Masjid Ijabah sebenarnya dapat dikenali dari menaranya yang mempunyai tinggi 33,75 meter, dan kubah putih setinggi 11, 7 meter berdiameter 9,5 meter. Jika anda masuk ke dalamnya, suasana nyaman akan terasa. Hamparan karpet berwarna merah dengan  seluruh bagian masjid yang bersih dan terang akan menyambut anda. Beberapa buah kipas angin menempel di pilar-pilar masjid membantu pendingin udara. Dianjurkan agar anda shalat sunnat di dalamnya dan berdoa. Tentunya dengan shalat dan berdoa di tempat suci ini, anda telah menapak-tilasi perjalanan Rasulullah SAW. Semoga segala doa anda juga diijabah, dikabulkan oleh Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin.
Masjid Ijabah Madinah, di antara bangunan lainnya di Kota Madinah
(Credit: Imam Khairul Annas)


Masjid Ijabah, yang letaknya bersebelahan dengan Rumah Sakit Al Ansar (Mutawassifa’ Al Ansar, sebuah rumah sakit berukuran kecil tapi penting peranannya bagi para peziarah yang jatuh sakit di Kota Madinah saat menjalankan ibadah haji atau umrah), telah menjadi bukti betapa besar kecintaan Rasulullah SAW kepada ummatNya. Di masjid inilah Rasulullah pernah berdoa kepada Allah untuk memohon 3 hal terkait ummat Islam. Menurut riwayat, suatu hari Rasulullah SAW baru kembali dari gunung. Beliau kemudian singgah di Masjid Bani Muawiyah (nama masjid ini pada zaman dulu) dan shalat dua rakaat.  Beliau bersujud agak lama dari biasanya. Setelah shalat Beliau berkata kepada para sahabat yang ikut shalat di belakang Beliau dan berkata, “ Saya telah memohon kepada Tuhan agar tidak membinasakan ummatku dengan kekeringan dan kelaparan, Iapun mengabulkannya. Aku mohon kepada Tuhan untuk tidak membinasakan ummatku dengan menenggelamkannya, Iapun mengabulkannya. Dan aku mohon agar tidak ada fitnah dan perbedaan di antara mereka, tetapi Dia tidak mengabulkannya. (Shahih Muslim, 52: 2890).

Ada riwayat lain tentang Masjid Ijabah di Kota Madinah ini, yaitu pada suatu waktu ketika Kota Madinah lama tidak diguyur hujan dan kekeringan, Rasulullah SAW melaksanakan shalat minta hujan (Shalat Istisqa) di masjid ini. Doa beliau langsung diijabah bahkan sebelum shalat selesai, hujan telah turun membasahi kota. Akan tetapi, tidak ada sandaran hadist yang kuat akan riwayat ini. Wallahu alam bishawab.

Nah, jadi kalau anda sedang berziarah di Kota Madinah dan berjalan-jalan di sekitar Masjid Nabawi, tentu sebaiknya anda meluangkan waktu untuk mengunjungi Masjid Ijabah ini. Bukankah demikian?

Friday, April 4, 2014

Miqat di Masjid Bir Ali

Miqat Bir Ali di Madinah

Si Cantik yang Tersembunyi Di Bawah lembah

Bis melambat setelah 15 menit meninggalkan Kota Madinah. Di perbatasan tanah haram, tepatnya 11 kilometer dari Masjid Nabawi, dan 9 kilometer dari sisi luar Kota Madinah adalah tempat cantik bernama Masjid Bir Ali. Nun dari kejauhan mulai tampak sebuah menara menyembul dari balik gerumbul pepohonan di bawah lembah. Dahulu di jaman Rasulullah SAW, lembah itu disebut Lembah Aqiq. Baru terasa sebentar menjejak Kota Madinah, 15 atau 20 menit perjalanan dengan bus berpenumpang 45 orang, kini tibalah rombongan peziarah itu di Bir Ali. Mereka akan menunaikan ibadah umrah ke Kota Mekkah dan mengambil miqat di sini sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW berabad lampau.

Lokasi masjid tempat mengambil miqat haji dan umrah ini agak turun ke bawah, menuju lembah yang menghijau. Menara itu ternyata tidak pendek, tingginya 64 meter menjulang perkasa ke langit dengan bentuknya yang seperti sebuah mercusuar. Di belakangnya sebuah bukit berbatu cadas menjadi pemandangan lain yang juga menakjubkan mata. Bangunan mesjid Bir Ali telah nampak jelas ketika bus memasuki pelataran parkir yang mampu menampung 500 buah mobil dan 80 bus berukuran besar. Dari luar bangunan yang bentuknya seperti bujursangkar itu tampak kaku. Parkir yang lapang. Dari sini tampaklah sebuah bangunan mirip benteng, yang dirancang oleh arsitek termahsyur Abdul Wahid El Wakil. Konon, sang arsitek terinspirasi oleh masyarakat di sekitar lembah ini dalam membuat rancangannya.

Sejarah Masjid Bir Ali dan Rasulullah SAW

Menurut sejarah, Masjid Bir Ali dibangun di tempat mana Rasulullah SAW pernah bernaung di bawah sebuah pohon sejenis akasia saat menuju Kota Mekkah untuk menunaikan ibadah umrah. Begitupun sekarang, setiap peziarah yang akan melaksanakan ibadah haji dan umrah dari arah Kota Madinah selalu berhenti sejenak di tempat anggun ini untuk mandi, shalat sunnat ihram 2 rakaat, dan mengambil niat ihram.
miqat masjid bir ali
Dari Luar Mesjid Bir Ali tampak Bagai Benteng yang Kaku, tetapi Siapa Sangka Bagian dalamnya sungguh luar biasa (Credit: Aimantiti)


Masjid Bir Ali dikenal dengan banyak nama. Disebut Bir Ali (bir berarti kata jamak untuk sumur), karena pada jaman dahulu Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA menggali banyak sumur di tempat ini. Sekarang, bekas sumur-sumur buatan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak tampak lagi. Barangkali sudah terkubur karena pembangunan dan perluasan masjid ini. Masjid Bir Ali disebut juga Masjid Al Ihram dan Masjid Al Miqat karena fungsinya sebagai tempat berihram dan mengambil miqat bagi umat Islam yang akan menunaikan haji dan umrah. Selain itu Masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Syajarah (yang berarti pohon), karena sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya masjid yang cantik ini dibangun di tempat mana Nabi Muhammad SAW pernah berteduh di bawah sebuah pohon (sejenis akasia). Kemudian, beberapa orang mungkin juga menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Dzul Hulaifah, karena letaknya berada di Distrik Dzul Hulaifah.

Rasulullah SAW selalu singgah dan mengambil miqat di Masjid ini, begitupun sekarang para peziarah yang akan menuju Mekkah, mencontoh apa yang telah diteladankan oleh Beliau. Jarak dari Masjid Bir Ali ke Kota Mekkah sebenarnya masih cukup jauh. Perlu waktu 4 sampai 6 jam naik bus untuk tiba di Mekkah karena jaraknya masih lebih kurang 450 km.

Sebagaimana disyariatkan, ada 3 hal yang harus diamalkan saat mengambil miqat, termasuk miqat di Bir Ali ini, yaitu: (1) mandi sunnat ihram dan memakai pakaian ihram; (2) shalat sunnat ihram 2 rakaat; dan (3) berniat ihram serta bertalbiyah.

Uniknya Masjid Bir Ali

Karena banyaknya jamaah yang mandi di Bir Ali sebelum memakai pakaian ihram, maka jangan kaget apabila masjid cantik ini dilengkapi dengan 512 toilet dan 566 kamar mandi. Beberapa di antaranya dikhususkan untuk peziarah yang memiliki kekurangan fisik (cacat tubuh). Meskipun banyak sekali toilet dan kamar mandi, tak sedikitpun bau pesing menguar. Seluruh bagian masjid mulai dari daun pintu, karpet, hingga toilet dan kamar mandi berbau wangi. Ada banyak petugas kebersihan di sini. Beberapa bahkan orang Indonesia. Mereka ada yang bekerja sebagai petugas kebersihan toilet dan kamar mandi hingga penjaga kebersihan taman dan halaman masjid.
miqat di masjid bir ali
Bagian Koridor Di Sebelah Dalam Masjid Bir Ali ini Sungguh Indah Menakjubkan (Foto Koleksi Pribadi)


Sebenarnya mandi sunnat ihram dapat dilakukan di hotel sewaktu para jamaah berada di Kota Madinah. Akan tetapi apabila waktu yang tersedia cukup panjang untuk berada di Bir Ali, maka beberapa dari para peziarah lebih suka mandi di masjid ini karena lebih afdol. Karena itu kamar mandi yang banyak itu selalu saja penuh sesak pada musim haji dan mereka harus antre di depan pintu-pintu kamar mandi, toilet, dan kran wudhu. Beberapa peziarah yang entah karena apa terlupa mengeluarkan 2 helai kain ihram dari kopernya tidak perlu khawatir tidak bisa mengambil miqat di sini. Ada banyak kios-kios kecil berjejer di dekat lapangan parkir yang menjual kain ihram dan suvenir khas tanah suci lainnya.

Masjid Bir Ali yang terletak di antara jalan raya antara Madinah dan Mekkah ini memang menawarkan kesejukan bagi mata. Bagaimana tidak, pohon-pohon rindang terawat, pohon-pohon kurma dan sejenisnya berbaris rapi di sepanjang jalur-jalur indah dari batu granit. Pepohonan itu tumbuh di atas tanah berumput hijau nan lembut. Banyak peziarah yang sebelum shalat berfoto-foto di beberapa bagian taman dan samping masjid, merekam kenangan indah di tanah suci. Sebagian lagi mungkin terlihat buru-buru dan terpaksa mengabaikan keindahan itu karena waktu yang diberikan oleh koordinator peziarah hanya 15 menit.

Menyusuri taman di sekitar Masjid Bir Ali memang memberi kesan yang mendalam karena keindahannya. Akan tetapi, yang lebih luar biasa lagi adalah bagian dalam sisi Masjid berupa koridor selebar 6 meter berbentuk galeri dengan tiang-tiang indah dan lengkungan-lengkungan cantik setinggi 28 meter dengan kubah putih memanjang di atasnya akan membuat kita terpana. Subhanallah, indah sekali.

Menurut sejarahnya, Masjid Bir Ali mengalami beberapa kali renovasi. Dimulai pada masa pemerintahan Gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz (87 -93 Hijriyah), kemudian oleh Zaini Zainuddin Al Istidar pada tahun 861 Hijriyah (1456 Masehi), lalu pada jaman Dinasti Usmaniah dari Turki dengan dibantu seorang muslim dari India pada tahun 1090 Hijriyah (1679 Masehi), hingga terakhir oleh Raja Abdul Aziz yang memerintah Kerajaan Saudi Arabia dari tahun (1981 sampai 2005 M). Masjid yang semula kecil dan sederhana kini menjelma menjadi bangunan indah ini. Keseluruhan areal masjid luasnya sekitar 9.000 meter persegi yang terdiri dari 26.000 meter persegi bangunan masjid, dan 34.000 taman, lapangan parkir, dan paviliun.

Dan, ketika tiba saatnya masuk ke ruang shalat, suasana khusuk dan damai yang lain akan dirasakan. Bagi jamaah perempuan lebih mudah masuk melalui pintu besar nomor 6, 7, dan 8. Di pintu nomor 8 sepertinya lebih lengang dibanding dua pintu lainnya. Selesai shalat 2 rakaat, maka saatnya kembali ke bis dengan disambut senyuman ramah sopir yang mungkin berkebangsaan India, Pakistan, atau Bangladesh. Atau bahkan orang Indonesia.

Mulailah sesama peziarah mengingatkan untuk mematrikan niat umrah atau haji. Juga tentunya saling mengingatkan larangan-larangan ihram yang ada 13 macam. Bis bergerak perlahan-lahan meninggalkan Masjid Bir Ali bersama lantunan talbiyah dari para peziarah pria. Labbaika Allahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk la syarika laka.....

===
Notes: Sayang sekali, saya tidak punya cukup gambar bagus untuk ditampilkan karena sulit memperoleh gambar berlisensi Creative Commons. Akan tetapi jika anda benar-benar penasaran, mungkin link berikut bisa membantu: http://www.beautifulmosque.com/miqat-mosque-in-dhul-hulayfa-saudi-arabia/ atau http://jelajahdunia.wordpress.com/tag/masjid-dzul-hulaifah/  dan tentunya anda juga bisa googling sendiri ;)

Wednesday, April 2, 2014

Masjid Quba Di Madinah

Masjid Quba Di Madinah


Masjid Quba, Sekilas Pandang

Berkunjunglah ke Masjid Quba ketika anda berada di Madinah, karena hanya butuh waktu 10 sampai 15 menit untuk tiba di sana. Dari halaman parkir, anda sudah disambut keindahan air mancur yang menyejukkan mata, terselip di antara tanaman-tanaman hias. Bila anda layangkan pandang ke arah mesjid besar, bersih dan kokoh yang berwarna putih, 4 buah menara menjulang di keempat sudut bangunan akan menunjukkan wibawanya.

Letak Masjid Quba

Apa yang bisa anda rasakan ketika melangkahkan masuk ke dalam Masjid Quba adalah kedamaian, suasana khusuk dan ketenangan. Masjid yang merupakan masjid pertama yang dibagun oleh Rasulullah SAW ini tidak jauh letaknya dari Kota Madinah. Jaraknya hanya 5 kilometer di luar Kota Madinah, di sebelah tenggara. Lihat peta berikut untuk lebih jelasnya.
peta lokasi mesjid quba madinah
Peta Lokasi Mesjid Quba di Madinah


Keutamaan Masjid Quba

Menurut Umar RA, Nabi Muhammad bersama Umar RA selalu datang ke Mesjid Quba untuk shalat dua rakaat. Beliau datang dengan berjalan kaki atau berkendara (naik unta). Beliau juga sering menunggu Sayyida Ali RA di mesjid ini, karena rumah Sayyidina Ali RA memang berada di belakang mesjid ini. Rasulullah SAW selalu mendatangi mesjid ini pada setiap hari Sabtu, Senin, dan Kamis. Ketika Rasulullah SAW wafat, para Sahabat tetap menziarahi Masjid Quba dan mendirikan shalat di sana. Jadi sudah tentu Mesjid Quba merupakan salah satu tempat tersuci yang ada di Madinah. Betapa tidak, bukankah Masjid Quba dibangun dengan titik peluh Rasulullah SAW?
masjid quba madinah
Masjid Quba - Madinah, dari Arah Lapangan Parkir (Credit: Wibowo Djatmiko)
masjid quba di madinah
Masjid Quba - Madinah, dari sisi lain (Credit: Imansafinas)


Setiap peziarah muslim yang mengunjungi Kota Madinah selalu dianjurkan untuk mengunjungi mesjid ini. Ada keutamaan tersendiri ketika anda melaksanakan shalat sunnat 2 rakaat di mesjid yang sangat penting kedudukannya dalam agama Islam ini. Dengan shalat sunnat dua rakaat di Mesjid Quba, anda akan mendapatkan pahala setara satu kali berumrah. Seperti Hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i, “Barangsiapa bersuci (berwudhu) di rumah, lalu datang ke Masjid Quba dan shalat dua rakaat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah.” Menurut riwayat, ucapan Rasulullah dalam hadist tersebut adalah jawaban kepada penduduk Kampung Quba dan Madinah yang iri dengan penduduk Kota Mekkah yang dapat melaksanakan ibadah umrah setiap saat dengan mudah sementara mereka jika ingin melaksanakan ibadah umrah harus menempuh perjalanan yang sangat jauh. Jadi satu hal yang harus anda ingat ketika akan berangkat menuju Masjid Quba dan hotel tempat anda menginap adalah, berwudhulah terlebih dahulu agar anda mendapatkan pahala senilai pahala umrah tadi. Luar biasa bukan?

Masjid ini disebut-sebut dalam Al Qur’an sebagai mesjid yang dibangun di atas dasar takwa (Surat At Taubah:108): “Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri.......(At Taubah, 108).”

Sejarah Pembangunan Mesjid Quba dan Renovasi

Mesjid Quba mulai dibangun sendiri oleh Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 8 Rabiul Awwal. Beliau meletakkan batu pertamanya dan dengan dibantu oleh para Sahabat, menyelesaikan bangunan sederhana yang bahannya sebagian besar dari batu, pasir, batang dan pelepah kurma serta tanah liat. Rasulullah SAW mengangkut batu dan pasir hingga memberati punggungnya, dan debu dan tanah melekat di baju dan perut Beliau. Rasulullah SAW membangun mesjid ini pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi ketika pertama kali tiba di Madinah setelah berhijrah dari Kota Mekkah.

Orang yang pertama kali mengusulkan pembangunan Mesjid Quba adalah Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu Anhu. Saat Nabi Besar Muhammad SAW dan kaum muslimin hijrah ke Kota Madinah, ia mengusulkan agar dibangun tempat sekedar beristirahat untuk Rasulullah SAW di Kampung Quba yang saat itu merupakan perkampungan dengan lahan subur penuh kebun kurma. Ammar menjadi pengikut Rasulullah yang paling rajin dalam membangun masjid ini. Diriwayatkan bahwa Ammar RA mengangkut batu-batu untuk fondasi masjid dengan mengikatkannya ke tubuhnya. Ia mengangkut batu-batu berukuran besar yang orang lain tidak sanggup mengangkatnya. Di dalam sejarah Islam, Ammar RA memang dikenal sebagai prajurit perkasa, yang syahid pada usia 92 tahun. Ketika Masjid Quba selesai dibangun, Rasulullah mengimami shalat di sini hingga 20 hari penuh.

Mula-mula mesjid ini dibangun dengan luas 1.200 meter persegi pada sebuah kebun kurma yang luasnya 5.000 meter persegi. Hingga kini, Masjid Quba telah mengalami beberapa kali renovasi. Menara mesjid ini pertama kali dibangun oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kemudian Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986 melakukan renovasi dan peluasan besar-besaran sehingga menelan biaya sebesar 90 juta riyal sehingga Masjid Quba dapat menampung sampai 20 ribu jamaah. Terakhir, Masjid Quba direnovasi oleh Pemerintah kerajaan Saudi Arabia dengan dana 100 juta riyal pada tahun 2012 lalu.

Dengan luas sekarang yang mencapai 5.860 meter persegi dengan terdiri dari dua lantai. Masjid Quba mempunyai 19 pintu. Dari semua pintu tersebut terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu tambahan. Ketiga pintu utama ini dapat dengan mudah dibedakan dari pintu lainnya karena ukurannya yang jauh lebih besar. Pintu utama memiliki daun pintu besar dan merupakan akses masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu utama digunakan untuk peziarah pria sedangkan satu pintu sisanya sebagai pintu masuk peziarah perempuan. Diseberang ruang utama mesjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar. Jika anda perempuan, disarankan untuk shalat di lantai pertama karena lebih tenang dibanding lantai dua yang cenderung lebih dipenuhi oleh jamaah.
ruang shalat masjid quba
Shalat Dua Rakaat Di masjid Quba Setara Pahala Satu Kali Umrah (Credit: Ahmad Faizal yahya)
tangga masjid quba madinah
Tangga Masjid Quba di Madinah (Credit: Ijansempoi)

Sisi Lain Mesjid Quba

Oh ya, beberapa pedagang asongan cilik mungkin juga akan menyambut anda untuk menawarkan beragam suvenir mulai tasbih, gantungan kunci, dan barang-barang unik lainnya saat anda baru turun dari bus atau taxi yang anda sewa. Bagi anda yang kurang suka dibuntuti, abaikan saja mereka. Anda dapat berbelanja dengan santai di deretan toko-toko yang ada di koridor jalan menuju mesjid dari arah lapangan parkir. Berbelanja di sini cukup bagus, terutama ketika anda ingin merasakan buah kurma segar yang dibekukan dalam frezeer. Memang buah kurma segar tidak dapat bertahan lama di udara luar. Tidak banyak tempat lain (pusat peziarah) yang menjual buah kurma segar yang rasanya manis-manis sepet. Sebagaimana tempat lain untuk berbelanja oleh-oleh dan suvenir di Madinah dan Mekkah, anda harus pintar-pintar menawar.
buah kurma segar
Buah Kurma Segar dalam Frezeer, Banyak Dijual Di Toko Suvenir Dekat Masjid Quba (Credit: Suhadinet)

Tuesday, April 1, 2014

Mesjid Qiblatain di Medinah

Mesjid Qiblatain – Medinah


Mesjid Qiblatain adalah salah satu tempat ziarah umat muslim ketika berada di Kota Madinah. Mesjid tua ini memiliki beberapa keutamaan untuk dikunjungi. Berikut ulasannya untuk menambah pengetahuan kita tentang mesjid yang penting kedudukannya dalam sejarah kenabian Muhammad Rasulullah SAW. Ketika anda menjalankan ibadah haji dan umrah dan berada di Kota Madinah, maka Mesjid Qiblatain selalu ada di dalam daftar tempat yang akan dikunjungi. Jaraknya cukup dekat dari Mesjid Nabawy, yaitu hanya sekitar 5 kilometer.

Nama Lain Mesjid Qiblatain

Mesjid dua kiblat demikian orang Indonesia menyebutnya karena memang mesjid ini dalam sejarah penggunaannya mengalami dua kali perubahan arah kiblat untuk shalat umat Islam. Mengapa demikian? Sebelum turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW (Surah Al Baqarah ayat 114) di Hari Senin Bulan Rajab tahun kedua Hijriyah, shalat umat Islam berkiblat ke Masjid Al Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina (dahulu Jerusalem).

Turunnya ayat ini sebagai jawaban Allah SWT terhadap doa Rasulullah, karena umat Islam selalu dicemooh kaum Yahudi karena memiliki arah kiblat yang sama dengan mereka. Kaum Yahudi mencemooh bahwa umat Islam tidak mempunyai arah kiblat sendiri. Mesjid Qiblatain disebut juga Mesjid Bani Salamah karena dahulu Rasulullah membangun mesjid ini di tanah bekas rumah Bani Salamah.

mesjid qiblatain medinah
Mesjid Qiblatain - Madinah, Mesjid Dua Kiblat (Credit : Muhammad Mahdi Karim)


Letak Mesjid Qiblatain

Mesjid berwarna putih bertembok kokoh ini terletak di Kota Madinah Al Munawarah sekitar 5 kilometer dari Mesjid Nabawy, tepatnya di Jalan Khalid Bin Abd. Walid, sebuah jalan yang menuju Kampus Universitas Madinah. Mesjid Qiblatain dibangun di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah. Lihat peta berikut untuk lebih jelasnya:
Peta Lokasi Mesjid Qiblatain
Peta Lokasi Mesjid Qiblatain di Kota Madinah (Credit: maps.google.com)


Keunikan Mesjid Qiblatain

Beberapa keunikan Mesjid Qiblatain yaitu:
  • Satu-satunya mesjid yang mempunyai dua mihrab (tempat Imam memimpin shalat).
  • Tempat diturunkannya wahyu (Surah Al Baqarah Ayat 114) yang berkaitan dengan perubahan kiblat ibadah shalat umat Islam, yaitu pada saat Nabi Muhammad sedang shalat dzuhur, yang mana kemudian beliau menghentikan sementara shalatnya untuk mengganti arah shalatnya menuju Masjidil Haram setelah sebelumnya menghadap ke Majidil Aqsha. Pada saat pengalihan arah kiblat ini, Rasulullah baru menyelesaikan rakaat keduanya. Nabiyullah berhenti sejenak untuk kemudian berpaling 180 derajat menghadap Masjidil Haram di Kota Mekkah. Perubahan arah kiblat ini juga kemudian menguji umat Islam saat itu, apakah mereka percaya dengan kenabian Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqarah Ayat 142.
  • Diberi nama Mesjid Qiblatain, setelah sebelumnya disebut Mesjid Bani Salamah setelah turunnya wahyu dan pergantian arah qiblat shalat. Salah satu hal penting yang harus digarisbawahi terkait perubahan arah kiblat ini adalah bahwa umat Islam bukanlah menyembah Kaabah di Masjidil Haram ataupun Masjidil Aqsha. Arah kiblat hanya kode titik sentral arah ibadah shalat dan berdoa, bukan pada Masjidil Aqsha atau Kaabah-nya.

Struktur Banguan Mesjid Qiblatain

Ruang utama seluas 1.190 meter persegi dan ruangan untuk shalat wanita seluas 400 meter persegi merupakan tempat shalat berkarpet tebal dan lembut. Bila anda menjejakkan kaki di atasnya anda dapat merasakan telapak kaki anda tenggelam di dalam kelembutanya. Ruang utama ini berada di bawah kubah utama berukuran besar dengan lampu gantung besar berbentuk lingkaran berdesain artistik menggantung di tengah-tengahnya. Dari luar, anda akan dapat melihat dua menara kembar yang menjulang tinggi bersisian dengan dua kubah kembar yang mengapit kubah utama.

Di sisi barat mesjid, digunakan untuk tambahan bagunan untuk akomodasi pengurus mesjid, imam, dan muazzin. Sementara itu, karena bangunan Mesjid Qiblatain terletak pada kontour tanah yang miring, bagian yang lebih rendah di sebelah tenggara mesjid, dimanfaatkan untuk basement, di mana di sana para jamaah dapat mengambil air wudhu, kamar mandi, dan toilet. Sebagaimana mesjid-mesjid lainnya di Arab Saudi, mesjid ini tertata dengan baik. Ini dapat anda lihat dari taman yang menghijau oleh pepohonan dan kebersihan seluruh bagian mesjid.

Dari arah utara, yang juga struktur tanahnya lebih rendah dari bagian mesjid lainnya, dibuat tangga landai untuk para jamaah sebagai akses menuju tempat shalat utama mesjid. Secara umum mesjid ini memberikan kesan arsitektur tradisional yang mungkin dimaksudkan untuk menjadikan para peziarah dapat lebih menyelami sejarah besar dalam hal peribadatan umat Islam.

Mesjid Qiblatain Medinah
Mesjid Qiblatain - Madinah, dengan Menaranya yang Indah (Credit: Asifthebes)
Menara Kembar Mesjid Qiblatain - Medinah (Credit: Aiman titi)


Sejarah Renovasi Mesjid Qiblatain

Pada tahun 893 Hijriyah atau bertepatan dengan 1543 Masehi, Mesjid Qiblatain direnovasi oleh Sultan Sulaiman. Kemudian pada tahun 1987 Raja Fahd kembali melakukan renovasi. Kali ini dilakukan secara besar-besaran dengan memperluas mesjid dan menambah konstruksi baru untuk mesjid tersebut. Tentu saja tujuan utama perluasan mesjid adalah untuk menampung banyaknya umat muslim yang berziarah ke mesjid ini dan memberikan kenyamanan beribadah kepada mereka.

Lapangan Parkir Bus Para Peziarah di Mesjid Qiblatain - Madinah (Credit: Wibowo Djatmiko)